TRADISI MAULIDAN NABI MUHAMMAD SAW

Maaf sahabat-sahabat, karena admin lama vakum dalam meng-update isi atau materi blog, he he he. Maklum tak ada gading yang tak retak…. Oke sahabat semua, berhubung bulan ini merupakan bulan di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan yaitu pada tanggal 12 Rabi’ul Awal atau sering disebut dalam masyarakat kita dengan istilah “Wulan Mulud”, untuk itu mari kita bersama-sama membahas tentang amaliah-amaliah yang telah dilaksanakan bahkan telah menjadi tradisi yang mengakar pada kaum Nahliyyin.

Mengapa hal ini harus kita bicarakan?
Dewasa ini, umat islam selalu dikejutkan dengan statement dari kaum wahabi yang menyudutkan amaliah-amaliah Warga Nahdliyyin (NU) begitu juga dengan tradisi maulidan yang telah menjadi tradisi kita. Mereka menuduh bahwa “maulidan adalah bid’ah dan tidak ada tuntunan dari Rasulullah SAW”. Kaum Wahhabi menuduh peringatan Maulid Nabi SAW itu sebagai amalan bid’ah sesat, dengan alasan sempit, karena dalam pemahaman mereka bahwa Nabi SAW dan para ulama salaf tidak pernah melakukan peringatan Maulid Nabi SAW, seperti yang umumnya digelar oleh umat Islam di abad modern ini. Penulis akan membuktikan, apa benar tuduhan kaum Wahhabi itu sesuai dengan syariat Islam, atau tuduhan itu yang justru bertentangan dengan Alquran dan Hadits Nabi SAW serta amaliah para ulama salaf?

Imam Assuyuthi telah mengarang sebuah kitab khusus tentang bolehnya memperingati Maulid Nabi SAW. Buku itu diberi nama: Husnul maqashid fi `amalil maulid. Dalam kitab itu Imam Assuyuthi mengatakan: Ada pertanyaan mengenai hukum perayaan maulid Nabi SAW di bulan Rabiul Awal dipandang dari sudut syariat. Adakah perayaan ini baik atau tercela, dan apakah pelakunya akan mendapatkan pahala?

Masih dalam buku itu, Imam Assuyuthi menjawab: Hukumnya boleh, karena esensi dari perayaan Maulid Nabi SAW adalah berkumpulnya manusia untuk membaca ayat-ayat Alquran, dan membacakan hadits-hadits tentang kelahiran serta biografi Rasulullah SAW.

Kebolehan perayaan Maulid Nabi SAW juga dijustifikasi oleh Imam Abu Qatadah Al-anshari dengan mengatakan, bahwa Nabi SAW pernah ditanya mengenai puasa beliau SAW di hari Senin, maka beliau SAW menjawab: Hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan hari saat  aku pertama kali menerima wahyu. (Shahih Muslim, no 1162 dan Musnad Ahmad, no 22550).

Nabi SAW sendiri menaruh perhatian khusus pada hari kelahiran Nabi Adam dalam bersabdanya: Sesungguhnya hari yang afdhal bagi kalian adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari Jumat juga sangkakala (pertanda kiamat) ditiup dan pada hari Jumat juga mereka dibangkitkan, karena itu perbanyaklah bershalawat kepadaku karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami untukmu bisa disampaikan kepadamu sedangkan jasadmu telah hancur ?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi tanah untuk memakan jasad para nabi. (HR. Abu Daud, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shahih)

Lantas bagaimana  dengan hari kelahiran seorang nabi yang teragung, termulia dan manusia terbaik di antar umat manusia? Sebagai mana pengakuan jujur Nabi Muhammad SAW  dalam sabdanya: Aku adalah orang yang termulia, baik dari nasab ayah, dan juga dari nasab ibu, serta yang termulia dalam jalinan perkawinan, tidak seorang pun dari ayah-ayahku dan ibu-ibuku sejak dari Adam as. yang berasal dari sifah (pernikahan tidak sah), semuanya berasal dari nikah yang sah. (HR. Ibn Mardawaih). Hadits-hadits sejenis diriwayatkan pula oleh Thabarani, Abu Nu’aim, Ibnu Sa’ad, Ibnu ‘Asaakir, dan lain-lain.

Tentunya umat Islam tidak akan mau kalah dengan apa yang dilakukan oleh si kafir Abu Lahab dalam menuangkan luapan kegembiraan menyambut datangnya hari kelahiran sang keponakan, calon nabi yang menjadi penutup para Nabi (khatamun nabiyyin), Nabi Muhammad SAW ke alam semesta ini.

Urwah berkata: Tsuwaibah adalah bekas budak Abu Lahab. Waktu itu, Abu Lahab membebaskannya (setelah mendengar informasi dari Thuwaibah atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sang keponakan). Lalu Tsuwaibah pun menyusui Nabi SAW. Dan ketika Abu Lahab meninggal dunia, ia pun diperlihatkan kepada sebagian keluarganya di alam mimpi dengan keadaan yang memprihatinkan. Sang kerabat berkata padanya, “Apa yang telah kamu dapatkan?” Abu Lahab berkata.”Setelah kalian, aku belum pernah mendapati sesuatu nikmat pun, kecuali aku diberi minum lantaran memerdekakan Tsuwaibah (karena terdorong rasa gembira atas info kelahiran sang keponakan)” (Shahih Bukhari, no.5101).

Nabi SAW juga memberi contoh kepada umat Islam untuk memperingati peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam. Tatkala Nabi SAW sampai di Madinah, beliau SAW melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau SAW bertanya kepada kaum Yahudi itu mengenai hari tersebut, dan beliau SAW diberi tahu bahwa pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa AS serta menenggelamkan musuhnya. Karena itulah mereka berpuasa pada hari tersebut untuk bersyukur kepada Allah atas karunia ini. Lantas Nabi SAW perintah kepada umat Islam untuk bersyukur atas keselamatan Nabi Musa dengan berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), namun harus berbeda dengan kaum Yahudi, yaitu ditambah satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya.

Seseorang yang memperingati peristiwa paling besar yang pernah terjadi, yaitu kelahiran Nabi SAW, tiada lain karena didorong oleh rasa cinta yang mendalam, dan upaya menaati, mengingat, dan meneladani beliau SAW, serta merasa gembira dan bangga, sebagaimana Allah menunjukkan kebanggaan-Nya terhadap Nabi SAW dalam Alquran yang artinya: “Sungguh engkau (Muhammad) memiliki budi pekerti yang begitu agung” (QS. Alqalam, 4).

Dalam riwayat hadits Imam Bukhari, beliau SAW bersabda, “Tidaklah berimam salah satu dari kalian, sampai ia mencintaiku lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.”. Lantas Sy. Umar bin Khatthab berkata, “Wahai Nabi, aku sungguh mencintaimu melebihi diriku sendiri.”

Belum lagi Allah memerintahkan umat Islam untuk bergembira terhadap rahmat-Nya yang diturunkan untuk mereka, sebagaimana dalam Al Quran:

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
(QS. Yunus, 10: 58)

Sedangkan Nabi Muhammad SAW itu adalah rahmat bagi umat manusia, sebagaimana dalam Alquran

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.
(QS. Al-anbiya 107)

Perayaan Maulid Nabi SAW dengan kegiatan yang umum dilakukan oleh umat Islam dewasa ini, hakikatnya juga termasuk implemetasi dari sabda Rasulullah SAW:

Barang siapa merintis (memulai sesuatu) dalam agama Islam sunnah hasanah  (perbuatan yang baik) maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikuti) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah sayyiah (perbuatan yang buruk) maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikuti) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun. (HR. Muslim no 1016)

Rasulullah SAW membagi kebiasaan (sunnah) atas dua bagian, yaitu kebiasaan yang baik (sunnah hasanah) dan kebiasaan yang buruk (sunnah sayyiah). Peringatan Maulid Nabi SAW sebagai wadah kegembiraan umat Islam, adalah termasuk kebiasaan yang baik (sunnah hasanah), karena di dalamnya dibacakan Alquran, shalawat Nabi, sejarah hidupnya SAW, pelaksanaan majelis ta’lim serta dzikir-dzikir lainnya. Apalagi kemasan acara perayaan Maulid Nabi yang dikenal saat ini, mencakup senandung bait-bait berisi luapan kegembiraan, disertai suara gendang yang bertalu, adalah merupakan bentuk inovasi (ihdats) ibadah sunnah (sunnah hasanah) dari hasil memahami perintah Allah:

Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
(QS. Yunus, 10: 58) 

Seperti juga inovasi ibadah sunnah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi SAW. Sebut  saja Sy. Abu Bakar berinovasi yang mengumpulkan Al-Qur’an. Sy. Umar orang yang pertama kali berinovasi mengumpulkan jamaah shalat tarawih selama sebulan suntuk. Sy. Usman melakukan inovasi dengan adzan tiga kali pada hari Jum’at. Belum lagi justifikasi Sy. Umar yang mengatakan (nikmatnya/sebaik-baik bid’ah itu adalah seperti ini). Inilah yang dijadikan landasan anjuran melaksanakan sunnah hasanah, sebagai istilah lain dari bid’ah hasanah.

Adapun untuk lantunan bait-bait syair di saat acara Maulid Nabi SAW, maka Nabi SAW sendiri sangat senang dengan syair pujian terhadap diri beliau SAW. Sebagaimana diketahui bahwa pada masa Nabi SAW hidup, para penyair berdatangan ke hadapan beliau SAW dengan berbagai jenis karya yang berisi pujian-pujian baik terhadap beliau SAW.

Nabi SAW sangat senang dengan syair yang bagus, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa beliau SAW bersabda, “Dalam syair itu ada hikmah (kata-kata bijak). Al-Abbas, pamanda Nabi SAW juga menggubah sebuah syair yang menyanjung kelahiran Nabi SAW sebagaimana berikut:

Tatkala engkau dilahirkan, bumi bersinar terang.
Dan cakrawala benderang penuh dengan cahayamu,
Sehingga kami dapat tembus memandang,
Segala syukur kupanjatkan atas datangnya sinar terang,
Cahaya dan jalan yang dapat menunjuki itu.

Sedangkan, bermain gendang dengan niat yang baik hukumnya jaiz (boleh). Dalam kitab Rasail Ibnu Abbad disebutkan, bahwa ada seorang gadis datang kepada Nabi SAW, ketika beliau SAW baru pulang dari salah satu peperangan. Gadis itu berkata: Ya Rasulullah SAW, aku telah bersumpah atas nama Allah, bahwa bila Allah mengembalikan engkau dalam keadaan selamat, aku akan memainkan gendang ini di dekatmu. Nabi SAW kemudian bersabda: Tunaikanlah sumpahmu itu..!

Dilansir dari : pejuangislam.com

Posted on Januari 8, 2014, in KEASWAJAAN. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: